Jumat, 19 Oktober 2012

Untuk S H A N D Y

Shandy, siang ini aku telah duduk seorang diri di bangku ini. Tak ada lagi tanganmu yang selalu memeluk pundakku saat aku seperti ini. Gelisah tak terarah.
Shandy, aku ingin sekali bertemu untuk segera mengatakan maaf yang sedalam-dalamnya dari dalam dan jauh di dalam hatiku untuk kamu paham, betapa aku menyesalnya.
Shandy, mungkin sangat menyakitkan apa yang kita alami ini. Sakit bagiku karena tak akan bisa lagi duduk disampingu, mendengar tawa, dan suara mu yang dulu selalu menjaga kediamanku. Sakit bagimu karena ternyata aku yang selama ini duduk disampingmu menghunuskan sebilah luka yang sulit untuk diterima.
Shandy, aku mencintaimu. Masih seperti ketika pertama kali kita bertemu. Dan perpisahan yang kita putuskan semalam, adalah langkah awal untuk aku berbesar hati kepada hidup. Bahwa memang aku bukan untuk  memilikimu, juga kamu yang tak pernah meminta untuk memiliki aku.
Shandy, bila tiba waktunya esok kita bertemu kembali. Izinkan aku memeluk untuk terakhir kalinya. Menyampaikan maaf dan terima kasih.
Shandy, aku mencoba untuk tidak mempertahankan apa pun yang pernah kau beri dan aku miliki karena mu. Aku membakarnya, dan menguburnya. Berharap memang itulah jalan untuk aku bisa tanpamu.
Shandy, waktu yang kita miliki untuk bersama memang cukup secepat ini. Agar kita terjaga dari apa yang tidak bisa kita jaga.
Shandy, lima atau sepuluh atau dua puluh tahun setelah ini, aku harap kita bisa bertemu lagi. Dan kita tidak lagi perlu mendebatkan hal-hal yang tidak perlu kita debatkan seperti malam-malam sebelum ini.
Shandy, kau adalah se CARIK TEGAL yang menghanyutkan sebongkah sepiku dalam jauh tatanan GEOGRAFI yang jalannya kita lalui tak sejauh GAZZA.
Shandy, aku mencintaimu dan ini jalan untuk aku tak lagi mencintaimu.
Selamat berpisah kekasih, dan kawanku.
Semoga kau dapati apa yang seharusnya kau dapati.
Aku pun akan segera melupakanmu, bersama benih-benih mimpi untuk aku bangun.

Satu pesanku, makan dan minumlah dengan tangan kanan.

Good Bye........
read more