Aku tak layaknya angin yang terbang bebas kemudian membelai lembut wajahmu tanpa kamu merasa enggan.Aku hanya sepotong rembulan yang pucat kedinginan.Lalu mencoba untuk mengusir sepi,membaca kisah -kisah tentang laranya CINTA.
Aku buka lembaran demi lembaran,aku resapi apa arti itu semua.Terasa saat perlahan deburan ombak dihatiku menyapu pasir - pasir Cinta yang berserakan di pantai ini.Kemudian membawanya jauh pada mimpi yang telah lama aku tinggalakn.Tentang perasaan CINTA.
Aku iri.Aku Rindu.Aku Ingin.
Iri pada burung camar dimana telah aku perhatikan bayangnya saat senja menjeput malam.
Kapan aku tinggalkan ini???????Meski aku belum kenyang menjalani semua.
Rindu pada senyum paginya.Saat aku mengawali lembaran baru biografiku.
Aku pun bergegas menjemput senyum - senyum yang aku tunggu sedari malam.
Rindu matanya.pipi dan kupingnya.Masih aku dengarkan ucapan merdunya.Indah senada dengan langkahnya.Harmoni yang terkolaborasi dengan hayalku.
Ingin segala ingin dalam diri ini tentang matanya yang menciptaka keteduhan di awan hatiku.Lalu aku biarkan perasaan ini hanyut di dalamnya laut asmara.
Asmara pada segala terang yang memang menyilaukan kornea jantungku.
Aku mengantuk saja saat aku terjatuh pada hilangnya pandangan di depan mata.TElah tak ada.
Dia tak ubahnya air di bejana Hati.Aku sapu dengan jemari dan aku tak lagi melihat manis wajahnya.
Aku angkat tangan basah ini.Aku biarkan saja.Karena memang seharusnya seperti itu.Aku tak kuasa untuk menatapnya.Janganlah akar - akar jiwaku menjalar menghisap sari - sari dusta.Karena hati tak boleh kembali berharap pada sesuatu yang bukan haknya.
Layaknya rembulan malam yang hanya mampu menanti Matahari datang menjemputnya untuk ke pesta dansa.Hanya menanti,dan menanati.
0 komentar:
Posting Komentar
Welcome....