Rabu, 11 Januari 2012

HUJAN

Ketika seperti inilah aku paham kalau aku membutuhkan dinding untuk bersandar. Untuk sekiranya bisa meringankan beban yang selama ini bergelayut. Aku tak ingin beranjak dari dudukku sebenarnya tadi sore. Meski hanya sisa hujan yang masih menetes dari atap yang aku nikmati. Tapi aku merasa tenang disana. Daripada aku tertidur disini, tapi tak ada yang aku bisa ciptakan selain cerita ini.
Aku justru memikirkannya, seseorang yang tak tahu betapa aku ingin sekali lagi duduk menatap senyum diwajahnya. Mendengar sejenak saja kata-kata indahnya, juga cukup sebentar aku damai dalam dekapnya. Aku merasa hidup bila tangannya kembali menahan lenganku, sorot matanya jatuh tepat dijantungku. Meski belum pernah aku memandang dengan hati wajahnya sepenuhnya. Aku hanya ingin disampingnya saja. Diam dalam dekapannya, atau hanya sekedar duduk tanpa makna.
Aku belum bisa mengatakan ini cinta. Karena aku masih jua belum paham, untuk apa aku jatuh cinta. Aku lelah terjatuh terus menerus. Cinta seperti apa yang aku butuhkan saja, aku tak paham. Aku hanya ingin melewati malam bukan seorang diri, lalu ketika aku dapati pagi, aku juga mendapati pesan dari senyumnya. Sudah, hanya itu yang aku butuhkan. Tidak lebih.
Aku memang tak akan pernah bisa memiliki cinta yang aku inginkan, aku hanya merasakan betapa sakitnya menahan rindu yang tak pernah ada ujung pangkalnya.
Aku kembali diam, diam dalam kediaman yang semakin dingin oleh selimut hujan yang malang malam ini. Bila saja, aku bisa memeluk hujan, mungkin aku juga bisa memeluknya hingga malam seperti ini berakhir. Tapi tidak, bulan tak akan pernah nampak kala langit berpesta hujan. Begitu pula bintang tak sudi untuk menjenguk malam saat rintiknya menyerbu halaman rumah. Lalu pohon-pohon itu kedinginan, persis seperti tubuhku tanpa kata-katanya.
Mengapa harus dia yang menjadikan aku mati rasa?
Bukankah banyak awan yang memayungi kala siang menggantikan malam?
Apakah karena awan-awan itu hanya bisa menjatuhkan hujan, tanpa paham aku kuyup dan dingin disini?
Bila semua awan seperti itu, sia-sia aku bercerita.
Aku hanya ingin hangatnya mendekapi aku erat, bukan hujannya yang menyelimutiku pekat.

Selamat malam, hujan yang melumpuhkan otakku.

( dedicate for Mr. Agung Miftahuddin )

0 komentar:

Posting Komentar

Welcome....