Hujan memang terkadang tak seindah yang kita bayangkan. Ada ketakutan yang dia bawa disela-sela dinginnya. Ada sakit yang tertawarkan pada setiap tetesan yang menghujani atap rumah dan membasahai setiap yang ada.
Aku ingin larus saja pada mereka. Menjadi provokator untuk menjadi banjir sehingga aku merasa akulah yang besar. Besar oleh setiap yang kecil. Aku ingin datang padanya. menggedor pintunya, menarik tangannya, lalu memaksanya turut hanyut pada derasnya hujan ini. Aku benar ingin tahu saja ada apa dengan senyumnya. Bisakah biji cinta ini bertunas? Lalu tumbuh di musim hujan ini? Atau hanya biji tua yang akan busuk oleh lembabnya hawa di musim tahun ini.
Aku ingin mencintainya. Jauh seperti awan yang menjadikan sore ini terasa ingin aku bunuh. Aku menunggu. Setiap apa yang ada di detikku. Tentang air mata yang tak jua tahu kalau aku tak kuasa menahan rasa ini untuk dia ketahui. Lalu aku tak punya apa pun untuk hanya sekedar datang padanya, atau menekan nomornya untuk aku telpon.
Aku ingin dia datang disini.
Aku ingin larus saja pada mereka. Menjadi provokator untuk menjadi banjir sehingga aku merasa akulah yang besar. Besar oleh setiap yang kecil. Aku ingin datang padanya. menggedor pintunya, menarik tangannya, lalu memaksanya turut hanyut pada derasnya hujan ini. Aku benar ingin tahu saja ada apa dengan senyumnya. Bisakah biji cinta ini bertunas? Lalu tumbuh di musim hujan ini? Atau hanya biji tua yang akan busuk oleh lembabnya hawa di musim tahun ini.
Aku ingin mencintainya. Jauh seperti awan yang menjadikan sore ini terasa ingin aku bunuh. Aku menunggu. Setiap apa yang ada di detikku. Tentang air mata yang tak jua tahu kalau aku tak kuasa menahan rasa ini untuk dia ketahui. Lalu aku tak punya apa pun untuk hanya sekedar datang padanya, atau menekan nomornya untuk aku telpon.
Aku ingin dia datang disini.
0 komentar:
Posting Komentar
Welcome....