Kamis, 15 Desember 2011

Filosofi Kelapa



“ Hidup itu seperti buah kelapa “
Aku lupa dari siapa kalimat itu terucap. Apakah ketika kemarin aku ke Jogja atau pas ikut Leadership Up Grading di Baturraden.
Kalau dipikir secara nalar, memang benar. Hidup kita ini layaknya buah kelapa. Kita tidak akan pernah tahu kapan kematian itu menghampiri kita dan berapa umur kita pun tak ada yang tahu. Apakah saat usia masih bayi, anak-anak, remaja, dewasa, atau sudah tua. Ini persis seperti buah kelapa yang jatuh dari pohonnya. Buah kelapa jatuh dalam berbagai masa. Entah itu ketika masih dalam bentuk bunga, masih kecil ( Bluluk – jawa ), masih muda ( degan – jawa ), sudah dewasa ( kelapa ), atau sudah tua ( kelapa tua, warnanya cokelat ). Dan cara jatuhnya pun beragam. Ada yang jatuh dengan sendirinya, ada yang jatuh karena dimakan tupai ( atau hewan lain ), ada yang jatuh karena dipetik. Filosofinya, kematian kita itu pun beragam. Ada yang mati karena sudah tua, ada yang bunuh diri disebabkan kurangnya kakuatan untuk menjaga jiwanya ( stress, depressi, putus asa, dll ), dan ada yang karena penyakit.
Selain kematian, ternyata kita bisa mengambil hikmah lain dari buah kelapa. Bahwa dalam hidup ini, kita harus mampu menempatkan posisi kita. Berperan sebagai siapakah kita dalam pertunjukan ini. Ketika kelapa telah dihaluskan ( diparut – jawa ) maka ini dinamakan ampas ( jawa ) yang bila di campur dengan sedikit garam, akan terasa nikmat sebagai pelengkap makanan gethuk. Ketika ampas tersebut di peras, maka akan menjadi santan yang mampu melezatkan masakan berkuah. Pastinya, untuk membuat ampas kelapa dan atau santan kelapa, bukanlah kelapa muda yang masih terasa lembek, melainkan kelapa ( dewasa ) yang memang telah padat. Karena kelapa muda ( degan ) lebih nikmat untuk disantap dengan air gula, sirup dan sedikit es atau kita biasa menyebutnya Es Degan.
Sudah sepantasnya kita bersyukur atas segala bagian tubuh kita, karena setiap bagian dari apa yang kita miliki adalah berguna. Jangan kira hidung kita yang tak semancung orang-orang barat tak berguna, jangan pikir tubuh kita yang gemuk, atau yang kurus, atau yang merasa wajahnya tidak rupawan, atau apa saja tak ada manfaatnya untuk kita. Pernahkah kita berfikir kalau kelapa tanpa kulit maka tak akan ada sapu ijuk, atau kelapa tanpa tempurung tak akan ada siwur, irus, atau perabotan rumah lainnya? Meskipun kini banyak yang dari plastik, tapi keberadaan perabotan plastik itu seperti imitasian dari perabotan dari tempurung.
Kelapa itu buah dari pohon yang luar biasa. Pohon yang dari akar sampai ujung pohonnya memiliki guna. Seperti itulah hidup kita, bahwa kita terlalu naif untuk memaknai hidup ini, kita tak jua sadar bahwa kita hidup di alam yang luar biasa anggunnya. Luar biasa kerennya, luar biasa dahsyatnya. Bila kita merasa hidup ini sempit, cobalah keuar. Kita aka melihat betapa tinggi, megah, dan indah langit itu. Pergilah kesuatu tempat yang belum pernah kita kunjungi, maka kita akan tahu, betapa beruntungnya kita memiliki hidup.

( Postingan yang tertunda )

0 komentar:

Posting Komentar

Welcome....