Sabtu, 11 Februari 2012

Hatiku, Lelaki Terindahku, Penantianku. ( Curhatan temen ).

Akan masih adakah pertemuan yang malam itu menjadi awal aku untuk mengenal lelaki terindah dalam hidupku?
Yang kini aku sadar kalau tak perlu lagi aku ikuti pertemuan-pertemuan pertama bersama lelaki lain yang belum jelas seperti apa matanya menatap ragaku.
Aku berani untuk menanti sampai kapanpun penantian itu aku jalani.
Bagiku, bersamanya itu adalah hal terindah yang aku rasakan dalam kehidupan gelap ini.
Aku merasa akulah lelaki paling beruntung yang hidup didunia ini ketika aku sadar kalau aku pernah bercinta dengannya, lelaki asmara yang hidup dalam kesemuan.
Kapankah aku miliki lagi malam minggu yang pantas aku jadikan lembaran cerita untuk aku pamerkan pada masa laluku kalau aku telah duduk bersamanya lagi.
Kini, aku masih tetap menanti sampai kapan aku menanti.
Menanti perasaan yang aku harapkan benar adanya aku rasakan, yaitu aku jatuh cinta padanya.
Bukan karena hartanya, atau wajah tampannya.
Tapi hatinya yang telah dia pamerkan dimalam pertama ketika aku merasakan betapa telah mati otakku untuk menciumnya.
Bagiku, ciumannya adalah dosa termanis yang ingin aku nikmati lagi.
Aku masih menanti entah sampai kapan aku menanti.
Aku tahu, tak akan ada keabadian dalam cinta terlarang ini.
Tapi setidaknya, aku bisa sebentar saja bertahan dalam pesakitan ini bersamanya.
Dia lelaki terindah yang pernah menjerat akalku dalam sadar sesadar-sadarnya.
Lalu meninggalkan kekosongan yang aku tak mampu untuk mengisinya tanpanya.
Aku ingin dia semakin sadar betapa aku terlalu lama dalam diam sekalipun kemarin aku duduk didepannya.
Aku masih diam, takut semua yang aku rasakan hanya akan membunuh kegelisahnku saja.
Aku masih merasakan betapa aku ingin melayang saat aku sadar dia telah pergi untuk menemui cinta sejatimu.
Lalu kapan tiba masa untukku dapat merasakan sebenarnya kasih yang dia curahkan untukku, meski aku adalah simpanannya yang lain.
Menjadi diriku itu, sungguh tidak ada enaknya.
Menanti sesuatu yang tak akan pernah paham betapa dia yang ada di otakku tak jua keluar secara nyata untuk kembali mencium bibir ini lagi.
Memeluk raga rapuh ini lagi.
Aku minta maaf yang tulus, lelaki terindah yang diam tanpa pernah bertanya seperti apa tersiksanya aku ketika aku duduk diam di depannya.
Tentang malam ketika aku tidur disamping lelaki yang telah menjelma menjadi iblis dalam hatiku.
Merampas ketidakberdayaanku lalu mengusir tanpa dosa.
Dialah iblis yang diam ketika aku sadar aku tertipu oleh wajahnya.
Aku tak ingin lagi datang padanya, sekalipun dia kembalikan ketidakberdayaanku.
Aku lebih memilih untuk menanti lelaki terindahku datang bersama segala yang aku rindukan tentangnya.
Dan malam ini, aku berdo'a untuk pertemuan yang lebih indah lagi bersamanya, lelaki terindah yang indahnya tak ingin aku ganti dengan orang yang tadi pagi terus menjadikan mata ini tak mampu untuk berkedip, sekalipun.
Aku berharap, malam ini akan ada lebih dari ciuman di pertemuan pertama itu.
Ciuman yang masih melekat sampai satu bulan ini.

(* Untuk Lelaki terindahku yang Indahnya harus dibagi antara aku, istrinya dan simpanannya.


0 komentar:

Posting Komentar

Welcome....